Menjadi Manusia Bebas ala Daniel Kho

Manusia bebas berwajah Tionghoa dan berlogat Jawa yang lahir di Indonesia ini dididik dengan Budaya Jawa yang sangat menghargai tanah kelahirannya.

Nama Daniel Kho memang lebih dikenal di manca negara dari pada di negeri tempat ia dilahirkan. Perjalanan panjang menjadi seorang seniman kontemporer dimulai ketika ia meninggalkan Indonesia di tahun ’70-an. Tapi dari situlah perjalanan Daniel untuk menemui akar budaya dan jati dirinya dimulai, sampai akhirnya menjadi sumber inspirasinya karya.

Dalam sebuah kesempatan ketika berkunjung ke Yogyakarta beberapa waktu lalu, seniman yang sekarang juga menetap di Bali ini meluangkan waktu untuk berbincang. Obrolan santai mengalir dari mulut seniman yang gaya bicaranya blak-blakan dengan logat Jawa yang kental tentang alasan meninggalkan Indonesia, akar budaya Jawa dan kejawen, menjadi manusia bebas, dan kekagumannya pada Kurawa.

Debbie Suryawan (DS): Mengapa meninggalkan Indonesia?

Daniel Kho (DK): Saya lahir sebagai keturunan Tionghoa di Pulau Jawa. Rasanya susah sekali mau urus sesuatu ke kelurahan’ Terlalu banyak tetek-bengeknya. Lalu saya pikir, ‘Ah, saya keluar saja dari Indonesia.’ Akhirnya lulus SMA, tahun 1974, saya pergi ke Australia. Perjalanan saya dari satu negara ke negara lain pun dimulai sejak itu.

DS: Apa yang dilakukan ketika Australia?

DK: Apa saja saya jalani yang penting dapat uang, termasuk gali kabel. Setelah beberapa tahun di Australia, saya jenuh dan ingin ke Eropa. Tapi perjalannya tidak semudah yang dibayangkan. Bersama teman saya yang penduduk asli, kami naik mobil dari Sidney ke Darwin yang saat itu masih sepi banget. Dalam perjalanan, kami mampir ke daerah Highest Rock, tempat nenek moyang teman saya. Kemudian temanku bilang, ‘Orang itu harus punya akar.’  Mengomentari pernyataannya, saya jawab, ‘Saya punya akar tapi tidak diakui. Muka saya Cina, lahir di Indonesia, dididik dalam kebudayan Jawa, akarku Jawa, tapi tidak diakui.’ Faktanya memang seperti itu yang saya rasakan. Akhirnya saya tinggal dulu tempat moyangnya teman saya sebelum akhirnya ke Eropa.

DS: Ke negara mana dulu di Eropa?

DK: Dalam perjalanan menuju Eropa, saya berkenalan dengan perempuan dari Stuttgart, Jerman. Saat itu, kalau mau masuk Eropa, biasanya kita masuk lewat Jerman karena punya bandara terbesar di Frankfurt. Dari situ barulah ke negara tujuan lainnya. Tujuan saya pada awalnya adalah Perancis karena mau sekolah seni. Namun akhirnya saya “mampir” dulu di Jerman, bahkan sempat sekolah di sana. Setelah lulus saya sempat bekerja di Antwerpen, Belgia. Saya bekerja menggosok batu berlian yang didatangkan dari Afrika Selatan. Hanya tiga bulan saja saya betah kerja di sana, lalu saya ke Venezuela. Setelah ke beberapa negara lainnya, akhirnya saya kembali lagi ke Jerman dan menikah dengan perempuan Polandia, sampai kemudian saya pindah dan tinggal di Polandia.

DS: Tetap ke Perancis untuk sekolah seni atau bagaimana?

DK: Ke Perancis sekitar enam tahun kemudian setelah saya menginjakkan kaki ke Jerman. Tapi saya justru banyak sekolah di di Jerman. Saya tiga kali sekolah di sana, belajar soal jewelry, interior design, dan juga seni murni.

DS: Kabarnya tidak mau memasukkan latar belakang pendidikan di dalam cv karena ingin menjadi manusia yang bebas?

DK: Betul! Saya lahir di negara yang disebut Negara Dunia Ketiga. Kemudian saya tinggal di negara kapitalis Jerman, Perancis, dan Australia. Saya juga sempat tinggal di Polandia yang merupakan negara komunis. Saya kira akan ada perbedaan antara negara dunia ketiga, negara kapitalis, dan negara komunis. Ternyata semua tidak lebih baik. Karena itulah, saya tinggalkan semua untuk menjadi manusia bebas. Di dunia ini hanya sekitar 15% orang kaya tapi mereka menguasai semuanya. Jadi bisa dikatakan, sisanya yang 85%, “bodoh” semua walaupun mereka insinyur, ahli apalah, atau bahkan profesor, karena mereka hanya melayani si kaya. Kalau mereka pintar, tentu mereka akan keluar dari lingkaran itu. Nah, saya mengeluarkan diri dari lingkaran itu. Saya mau hidup bebas sebagai manusia di dunia yang saya jalankan dan atur sendiri. Karena itu latar belakang saya tidak penting. Hla wong ijazahnya sudah saya bakar semua.

DS: Lahir di Indonesia, dibesarkan dengan budaya Jawa, keturunan etnis Tionghoa, tetapi dulu merasa tidak memiliki akar. Apakah karena itu gairah seni baru muncul ketika keluar dari Indonesia?

DK: Mungkin, karena sudah meninggalkan Indonesia sejak muda. Tapi saya selalu bergairah untuk berkarya, termasuk di sini. Negeri tempat saya dilahirkan ini indah sekali. Budayanya juga sangat kaya dengan beragam bahasa. Di Eropa, setiap negara punya bahasa sendiri. Tapi di Indonesia, satu negara beragam bahasa. Itu kekayaan. Karena itulah karya-karya saya kembali ke akar budaya, kembali ke Jawa, kembali kejawen. Coba saja perhatikan! Karya-karya saya sebenarnya menceritakan wayang, batik, pohon kehidupan, dan sebagainya.

DS: Terinspirasi pada akar budaya dan kejawen. Tapi wujud karya Anda sangat berbeda?

DK: Tentu berbeda! Karena kalau akar, yang pokok dan yang dalam, itu sudah pasti Jawa, kejawen. Namun masih ada akar serabut. Nah, akar serabut ini terinspirasi dari berbagai tempat yang pernah saya datangi, Australia, Jerman, Belgia, Polandia, Amerika, dan banyak lagi. Karena itu, jika diundang diskusi, saya selalu katakan bahwa yang penting itu akar pokoknya, karena tanpa itu pohon akan mati, akan koit. Itulah yang membuat karya saya memiliki akar budaya Jawa, kejawen, tapi bentuknya berbeda, sebab saya punya akar serabut yang beragam dan berbeda dengan orang lain.

DS: Memang sebesar apa pengaruh akar budaya dalam karya Anda?

DK: Oh, kuat sekali! Karena jika dilihat, karya saya banyak sekali memaparkan kejawen.

DS: Mengapa tertarik dengan kejawen?

DK: Kejawen itu satu prinsip hidup yang kompleks, dalam, dan gak diimport ataupun dieksport kemana-mana. Itu adalah tradisi yang tumbuh dari orang-orang dulu sebelum mereka mengenal agama. Jaman dulu, misalnya, ketika ada petir manusia takut kebakar. Akhirnya manusia mendewakan petir, menyembah petir, maka jadilah animisme. Di masa itu, manusia lebih hormat pada alam. Mau tebang pohon untuk dijadikan perahu saja ada upacaranya, sembahyang dulu, minta maaf dulu, dan sebagainya. Demikian juga dengan kegiatan panen, ada upacaranya, ada doanya. Dalam kejawen ada filosofi Tri Manunggaling Gusti, yang menekankan bahwa manusia serta alam semesta berada dalam kesatuan ilahi dan manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup dengan cara dekat atau menyatu dengan Sang Pencipta. Itu yang selalu membuat saya tertarik.

DS: Sudah 45 tahun ke berbagai negara, tetapi logat Jawa Anda masih sangat medok. Sengaja dipertahankan?

DK: Ya, memang sengaja saya pertahankan itu karena itu bagian dari akar saya.

DS: Cinta Indonesia?

DK: Rasa cinta dan nasionalisme tidak muncul sampai sekian puluh tahun setelah keluar dari Indonesia. Alasannya sederhana, karena banyak kekecewaan-kekecewaan yang saya alami. Selama bertahun-tahun pula demi menenangkan diri dengan ngomong ke diri sendiri, ‘Di mana tempat saya tinggal dan saya merasa bahagia, di situlah tanah air saya.’ Tapi pada akhirnya Indonesia tetap menjadi tanah air saya, karena saya kembali ke sini walaupun sudah kemana-mana. Karena inilah akar saya.

DS: Goresan lukisan Anda tegas, warnanya kuat, dan wujudnya abstraktif –bukan wujud yang ada dalam kotak pikiran manusia pada umumnya, bahkan cenderung kekanak-kanakan. Lukisan Anda juga multidimensi, langit dan bumi tidak jelas. Darimana pengaruhnya?

DK: Kalau kita melihat wayang, kan, itu sebenarnya abstrak. Lukisannya wayangpun pun sebenarnya surealis dengan tangan-tangan yang panjang dan sebagainya. Kalau diperhatikan tari-tarian Jawa pun surealis dan abstrak sekali. Karena itu, bentuk bagi saya sudah tidak penting. Yang penting akarnya. Demikian juga dengan dimensi. Menurut pandangan saya, hidup ini, kan, seperti game. Kalau sudah game master, sudah benar-benar jago dan menguasai, mau pindah ke mana saja gampang. Tidak ada lagi dimensi. Seperti saat ini misalnya, “nge-game” saya hari ini adalah ketemu kalian, karena “nge-game” saya beberapa hari lalu adalah nginap di Omah Kepel sehingga saya ketemu kalian dan akhirnya wawancara. Bisa saja suatu hari nanti kalian akan berpikir bahwa Daniel Kho kurang ajar, sudah gak mau main game bareng lagi karena sudah kan hilang.

DS: Tokoh wayang yang paling dikagumi?

DK: Kurawa! Mereka adalah saudara Pandawa, tapi nasibnya kasihan sekali. Maka itu, ketika pameran di ArtSub, saya buat karya bertema Kurowo Piknik. Karena Kurawa itu sebenarnya seperti saya. Saya lahir di dunia ini tanpa ditanya terlebih dahulu mau atau tidak. Kalau ditanya pasti jawaban saya “tidak mau!”. Saya juga percaya dalam kejahatan, di lubuk hati terdalam pasti ada kebaikan. Tapi karena Kurawa selalu dipojokkan, malah jadinya tidak karuan. Dan inilah gambaran yang terjadi sekarang. Maling ayam kecekel, lantas digebukin sampai babak belur dan sakit hati. Akhirnya mereka keluar dari penjara tidak akan insyaf, malah semakin menjadi-jadi. Sementara koruptor sekian trilyun, kecekel cuma cengengesan karena tahu pasti akan bahagia lagi. Kurawa jaman sekarang justru terbentuk di orang-orang seperti itu. Tokoh yang menyedihkan. Karena itu saya kagum.

DS: Kabarnya sedang membuat karya 3D bahkan teater?

DK: Ya, saya berencana membuat karya teater bertema “Perjalanan ke Nirwana”. Inspirasinya karena kita masih dipengaruhi surga dan neraka, tapi sebenarnya tidak tahu apakah itu hanya fiktif atau bagaimana. Coba Pak Ustad atau Pendeta pergi duluan ke sana, lalu ceritakan tentang surga. Ndak ada yang mau mlebu duluan, tokh? Karena itu, sekalian saja dibuat cerita fiktif. Cerita wayang dicampur video, penonton duduk di kursi ditemani tour guide yang menceritakan perjalanan ke Nirwana. Ada film, ada wayang, kursinya bisa goyang-goyang, kalau ada air juga bisa ikut merasakan. Seperti simulasi.  

DS: Seorang gallery owner sekaligus art collector pernah berkata bahwa Anda adalah satu dari sedikit seniman Indonesia yang lebih terkenal di luar daripada di negaranya. Tanggapan Anda?

DK: Faktanya memang betul memang seperti itu. Saya biasa-biasa saja secara personal, tapi jika dilihat dari segi karya, memang saya sudah lebih kontemporer dibandingkan dengan kalian. Ada sebuah artikel yang memaparkan bahwa seniman di sini (Indonesia) itu mengkontemporerkan diri. Kalau saya tidak pelu mengkontemporerkan diri karena memang sudah kontemporer dari sananya, jauh sebelum yang lain, hahaha.

DS: Pertanyaan terakhir. Tidak tertarik untuk menjadi dosen di Indonesia?

DK: Kalau mau belajar dengan saya boleh, tetapi bukan secara formal. Saya tidak tertarik untuk mengajar di sini karena terlalu formal, membunuh kreativitas karena dipagari.

DS: Mengajar, kan, tidak ada hubungannya dengan kreativitas, karena tujuannya berbagi ilmu, pengalaman, dan mungkin juga “keedanan” Anda?

DK: Di Eropa, dulu, namanya berkesenian itu semuanya harus simetris. Tapi sekarang, jika saya adalah kupu-kupu dan sayapnya berbeda ukuran, sudah tidak menjadi masalah di era kesenian baru. Estetika sudah tidak ada, sudah meninggal. Tapi kebalikannya dengan di sini (Indonesia), estetika masih galak. Sementara yang ngomong soal estetika dalam seni sudah gak ada. Jadi buat apa? Tidak hanya dalam dunia seni saja, tapi dalam kehidupan pun sebenarnya tidak perlu estetik. Pengajaran dan sistem penilaiannya pun seharusnya diganti, yang nomor 1 bukan dapat nilai 10, tapi ya 1, hahaha…

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No feed found.

Please go to the Instagram Feed settings page to create a feed.