Olahraga “Mewah” Berlatar Gunung Merapi

Jalan pagi faktanya sangat baik untuk raga, dan juga jiwa. Apalagi jika kegiatan demi kebugaran ini dilakukan di alam berpanorama Gunung Merapi yang megah.

Text by Debbie S. Suryawan

Sejak melahirkan anak pertama, saya mulai menyadari pentingnya berolahraga. Ketika itu, saya masih berkantor di kawasan “hutan beton” di Jakarta Selatan. Dengan jam kerja berkonsep 9AM-5PM, bisa dibayangkan betapa sulitnya mencoba berolahraga di ruang terbuka secara rutin. Padahal saya senang sekali mandi matahari pagi. Rasanya segar dan mood langsung melonjak. Karena kondisi saat itu masih terbatas, tentu saja berolahraga di pusat kebugaran menjadi pilihan. Meskipun rasanya kurang afdol, karena tubuh panas dan berkeringat sehabis treadmill selama 30 menit, tetapi ruangan full AC. Ah, yowisben… dari pada tidak sama sekali!

Long story short, kegiatan olahraga tetap saya jalankan dengan rutin, walaupun kadang hanya sebatas jalan pagi keliling komplek perumahan Bintaro yang tergolong masih banyak jalan yang sepi, masih cukup rimbun, dan jika beruntung, di akhir kegiatan saya bisa jajan bubur ayam atau ketoprak sebagai kompensasi atas 6000 langkah yang sudah terlaksanakan.

Uniknya, sejak saya dan suami memilih menepi ke sebuah dusun kecil dan sederhana di kaki Gunung Merapi, aktivitas olahraga, terutama jalan pagi, justru semakin rutin dilakukan karena rasanya luar biasa mewah . Mengapa? Karena jika cuaca cerah dan matahari tidak enggan menyibak selimut tebalnya berwujud awan, warna langit bisa senada dengan crayon sky blue dari Faber Castell. Hangatnya matahari juga terasa nyaman sekali di tubuh. Apalagi jalan-jalan pedesaan di kawasan Yogyakarta, termasuk Kabupaten Sleman tempat kami tinggal, hampir semuanya bagus untuk dilalui. Jika bosan berjalan di atas aspal, kami bisa memilih jalan-jalan kecil berbatu dengan rumput liar yang tumbuh semena-mena.

Saat jalan pagi, kami juga melewati dusun-dusun sekitar yang teduh. Rumah penduduk yang pada umumnya berhalaman luas tempat mereka menggelar hasil bumi, serta rimbunya aneka tumbuhan di pekarangan yang bisa dikonsumsi, juga menjadi panorama yang menyenangkan hati. Kadang kami juga melewati Sekolah Dasar sekitar yang masih terlihat sangat asri dan nyaman, dengan bangunan yang sederhana dan ruang terbuka yang lapang untuk bermain. Lebih dari itu semua, hampir sepanjang kegiatan jalan pagi dimanjakan dengan pemandangan berupa hamparan sawah, ladang, serta jajaran pohon pisang, kelapa, petai, nangka dan sebaginya berlatar Gunung Merapi yang gagah rupawan. Tak terasa, lebih dari 6000 langkah pun terlalui. Tubuh sehat, jiwa bugar, mata pun segar. Membuat saya jadi teringat pernyataan Yoshifumi Miyazaki, seorang PhD yang melakukan banyak riset mengenai nature therapy.

“Imagine taking a walk in the forest right now. You feel the earth and leaves under your feet, the snap of twigs. You listen to the birdsong and look up through the breaks in the canopy to the sky above, noticing how the light filters through to a point just further along the path. You breathe in, deeply. You smell the distinct forest aromas: Moss, Sap, Earth and Wood. You take it all in.”

Dari hasil berselancar di media cetak maupun digital, saya juga menemukan ada begitu banyak manfaat jalan pagi di alam sambil bermandikan matahari. Setidaknya ada 4 manfaat penting dari kegiatan tersebut selain meningkatkan kesehatan jantung, yaitu:

  1. Mengurangi stres dan kecemasan, karena kegiatan ini dapat membantu menurunkan kadar hormon kortisol dan meningkatkan suasana hati.
  2. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sinar matahari yang kaya akan vitamin D serta pemandangan yang menyegarkan pikiran dan mata ternyata bisa membantu meningkatkan jumlah sel pembunuh alami di dalam tubuh yang berfungsi melawan infeksi dan juga penyakit.
  3. Meningkatkan fokus dan kreativitas. Khusus untuk poin ini, saya sendiri merasakannya. Sejak membiasakan diri untuk jalan pagi di alam terbuka, rasanya saya bisa lebih fokus mengerjakan berbagai pekerjaan yang sudah saya catat pada malam sebelumnya. Konon itu semua karena jalan pagi di alam terbuka bisa membantu meningkatkan fungsi kognitif.
  4. Meningkatkan kesehatan dan kebugaran secara holistik. Sebab bukan hanya raga yang mendapat keuntungan dari kegiatan ini, namun pikiran dan jiwa juga mendapat begitu banyak manfaat. Bahkan menurut beberapa ahli yang sudah melakukan banyak penelitian, jalan pagi juga bisa menjernihkan pikiran.

Merasakan sendiri manfaatnya dan memahami bahwa kegiatan jalan pagi sangatlah mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun, saya dan suami melalui Omah Kepel Yogyakarta menawarkan short trip dan all day trip trekking bagi mereka rindu untuk menikmati aktivitas jalan pagi yang santai namun banyak manfaat di alam terbuka. Trip ini bahkan tidak hanya diperuntukkan bagi tamu-tamu yang menginap di BnB yang kami kelola, tapi juga terbuka bagi siapa saja yang mendaftarkan diri melalui DM ke akun IG Omah Kepel Yogyakarta (omah_kepel) atau melalui whatsapp ke nomor +6285691677453. Beberapa tamu kami juga sudah menikmati short trip trekking yang berdurasi sekitar 3 jam.

Masih sehubungan dengan manfaat dari berjalan di alam terbuka, Yogyakarta juga memiliki kegiatan jalan pagi di alam berskala internasional yang sudah dilakukan sejak 2008, yaitu Jogja International Heritage Walk (JIHW). Nah, tahun ini, JIHW akan diadakan pada 16 dan 17 November 2024 dengan pilihan jarak 5km, 10km, dan 20km. Untuk yang diadakan pada Sabtu 16 November, start kegiatan rencanakan akan dilakukan dari Candi Prambanan, Prambanan, Sleman. Sedangkan yang diadakan pada Minggu 17 November, kegiatan rencananya akan dimulai dari Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul. Untuk detail lebih lanjut silakan mengecek https://jogjaheritagewalk.com atau akun IG JIHW – Jogja International Heritage Walking (jogjawalking).

Jika tertarik untuk mengikuti kegiatan seru tersebut, tentu saja Omah Kepel Yogyakarta BnB bisa menjadi alternatif tempat menginap yang pas. Berlokasi di Dusun Potrowangsan, Kalurahan Candibinangun, Kecamatan Pakem, Omah Kepel Yogyakarta berjarak sekitar 22km dari Candi Prambanan, atau sekitar 35 menit dengan mobil. Sedangkan Desa Selopamioro yang berjarak sekitar 46km dari Omah Kepel Yogyakarta, bisa ditempuh selama sekitar 1 jam dengan mobil. Selain bisa mengikuti kegiatan JIHW yang seru, siapa pun juga bisa menikmati kegiatan jalan pagi yang lebih santai namun “mewah” di sekitar Omah Kepel dengan pemandangan Gunung Merapi yang perkasa.

Salam Yogya Istimewa!

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No feed found.

Please go to the Instagram Feed settings page to create a feed.